Kreatif, Perlukah?

Comment( 0)

Baru "Ngeh" dapat menulis di blog. Masa - masa lalu saya kebingungan dalam menulis bingung memilih tema apa. Gara - gara hari ini menang dalam update kreatif di FB Bapak Ippho Santosa, saya yakin tema yang mampu saya kuasai adalah kreatifitas.

Ingat Mc Giver, nih. Dianya yang nglawan penjahat pakai cara - cara kreatif menjadikan film tersebut tontonan wajib seminggu sekali. Kala itu saya belum tahu apa yang namanya kreatif. Ya suka saja.

Kembali ke judul. Kreatif perlukah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita lihat lingkungan sekitar kita. Ada Fried Chicken, ada ayam goreng di rumah. Ada spageti, ada Mie ayam di rumah. Ada Pizza, ada Bakpia di rumah. Kurang lebih sama. Ya, begitulah. Kalau Anda setuju, Anda punya teman yaitu saya. Kalau tidak, ya paling tidak ada satu yang setuju yaitu saya sendiri. Kurang lebih sama namun pengemasannya berbeda. Sentuhan - sentuhan kreatif dimasukkan di sana. Kalau di rumah, ayam goreng, meja makan, dapur, meja makan lagi, maka jika di Fried Chicken jangan ditanya udah tempatnya bagus, terang benderang, pramuniaganya ramah lagi. So, di sini kreatif yang menang. Spageti juga, iklan dibuat seindah mungkin membuat pengunjung tertarik, sementara Mia ayam, ya begitulah, dapur, meja makan, dapur lagi, paling banter depan televisi nonton kartun atau nonton bola. Yang terakhir Pizza sama Bakpia, terusin sendiri, lagian saya tak mau berpanjang - panjang. Sebab lainnya sebenarnya saya lebih suka Bapkpia daripada Pizza. Tapi, tetep aja Pizza berada diatas.

Bayangkan kalau tidak ada yang namanya kreatif. Bisa - bisa yang ada malah kere-atif. Wah, pernah pengalaman waktu di sekolah menengah, dimana saat itu pendidikan masih kiri banget gitu loh... ( fokusnya ujian, nilai bagus, datang, pulang, kayak robot-hush ngawur aja), saya mencoba berkreatif ria, bikin kliping dari koran terbuang dibikin majalah kecil sebesar buku tulis. Lucu banget, ada gambar kartun, video tape, humor, lagu ultraman kesayangan. Eh, malah dikata saya ini orang Kere - atif. Aduh, saat itu kasihan banget akunya. Cuman, yang berkesan saat itu adalah kliping itu laris manis diantara temen gadis - gadis cantik (ssst, dari itu saya belajar gadis itu sukanya ama cowok yang kreatif). Tercetak 2 eksemplar, dari 2 kali penerbitan. Ada tambahan lagi, pembacanya setianya dan satu - satunya adalah saya sendiri. Ho....... kasian.

Bukan pengalaman buruk itu yang terpenting. Yang, penting kalau kita kreatif di pada kondisi yang tepat, maka ledakan profit kita akan meningkat. Pernah tu, ngrasain saya, dikasih macam - macam bonus oleh Bos gara - gara diriku lain daripada yang lain. Ini bukannya yang penting beda loh... yang saya dari mulai ATM (Amati Tiru Modifikasi). Jadi, jangan salah. Ada lagi yang tak kalah kreatifnya, seorang pemilik situs jejaring sosial, mampu meningkatkan jumlah komen di situsnya 23 kali lipat dalam waktu semalam gara - gara mengusung si kreatif ini. Tak percaya, tapi ini benar - benar terjadi.

Ada lagi gara - gara di kreatif ini, sebuah buku tercetak Megabestseller dalam waktu singkat. Tak percaya, ya itu bukan urusan saya. Toh, itu sudah terjadi, mau tak dipercayai ya malah dikira orang tel-in (telat informasi).

So pegang satu ini, Kreatif, mulai sekarang

Salam Kemenangan





One Response to Kreatif, Perlukah?

Leave a Reply

design by Natty WP